KUAS TAK BERTINTA ------ Let's Think and Do It

Senin, 08 Januari 2018

Opinion: Berpikir Bahwa Berpikir


Aku berbeda dari orang lain. Tentu saja, hal tersebut merupakan pernyataan klise. Sudah jelas bahwa setiap orang itu berbeda. Dari hal terkecil macam gen sampai pola pikir otak mereka. Mereka tidak bisa memilih susunan basa nitrogen dalam DNA sebelum dilahirkan, kan? Membuat permintaan khusus ingin dikandung ibu siapa, ayah yang bagaimana, dan lainnya. Mereka hanya bisa menerima. Terkesan sangat tak adil, bukan?

Tapi terkadang ada yang mengganjal pikiranku... Siapa yang sebenarnya tidak adil? Tuhan yang menciptakan kita tanpa memberikan opsi untuk memilih atau kita sendiri sebagai manusia ciptaannya? 

Analoginya mirip dengan seniman dan penikmat karyanya. Dia menciptakan karya dengan tujuan tertentu. Menyisipkan makna tersirat dalam perwujudan karyanya. Selanjutnya, dia memamerkannya dalam sebuah pameran seni. Di pameran itulah drama ketidakadilan dimulai.

Semua orang yang datang menilai karyanya dari sudut pandang masing-masing pribadi mereka. Jika pikiran bisa terlihat, maka dari kepala mereka ada yang menguarkan kata “seharusnya...”, “menurutku..”, “akan lebih baik jika...”, dan berbagai macam ungkapan penilaian lainnya. Yang lebih parah, bahkan ada yang menanggapi negatif karyanya. Yah, mungkin tidak semua orang menilai begitu. Sudah kubilang, kan di awal... ada yang berpikir begitu, bukan berarti semua berpikir begitu.
Jika karyanya adalah makhluk hidup yang mengerti ocehan komentatornya, mungkin dia sudah menangis dan menjerit seriosa menyuruh orang-orang yang berkomentar jahat itu pergi. Tentu saja... memangnya siapa yang ingin dihina?

Kembali lagi pada sang seniman. Apakah seniman tersebut salah menciptakan karya tersebut? Apakah ada yang tahu  makna yang sebenarnya dituangkan seniman tersebut dalam karyanya? Tidak... tidak akan ada yang tahu kecuali mereka bertanya atau mencoba memahami sudut pandang sang seniman –itu pun kalau mereka sampai pada pemahaman yang sama dengan sang seniman. Siapa yang terlihat jahat dan tidak adil sekarang? Seniman, karya, atau penikmat karyanya? Tentu kalian tahu jawaban pertanyaan ini.

Bagaimana mungkin kita yang diciptakan oleh-Nya menghakimi ciptaan-Nya yang lain? Yang lebih tidak masuk akal –jika kita diposisi yang sama dengan karya, bagaimana bisa kita menyalahkan Sang Pencipta yang telah menciptakan kita padahal yang menghakimi kita adalah orang lain?
Ini bukan tentang siapa yang salah. Apa ini tentang sudut pandang? Ada banyak sudut pandang di dunia ini. Terlalu banyak sehingga terasa begitu rumit jika dipikirkan. Pikiran kitalah yang membawa kita untuk sampai ke penilaian-penilaian tersebut. Jika ini salah pikiran kita maka... apa gunanya otak jika bukan untuk berpikir?


Sudah kubilang ini bukan tentang siapa yang salah. Apa sekarang kalian berpikir? Oh maaf, biar kuperjelas maksudku.... apa sekarang kalian sudah berpikir dengan cara yang tepat?

0 comments:

Posting Komentar

Berpikir untuk meninggalkan pesan/review? :)))