KUAS TAK BERTINTA ------ Let's Think and Do It

Sabtu, 31 Maret 2018

Metaphor: Negeri Seribu Wajah


Masih kuingat dalam memori, bagaimana kedua orang tuaku mengajarkan cara memahami orang lain lewat ekspresi. Pelajaran penting sebagai manusia si makhluk sosial. Mengerti orang lain dengan membaca air muka, cara yang sederhana dan mudah. Identifikasi, klasifikasi, dan simpulkan.

Senyum melambangkan kebahagiaan, tangis melambangkan kesedihan, marah melambangkan kekesalan, dan lain-lain. Sudah merupakan persepsi umum bahwa ekspresi mengungkapkan suasana hati.

Apa yang kau lakukan saat bahagia? Tersenyum. Saat sedih? Menangis. Saat kesal? tentu saja amarah akan meluap. 

Sangat mudah mengklasifikasi mana kebahagiaan dan kesedihan. Keduanya memiliki batas perbedaan yang jelas dari pengamatan segi ekspresi terhadap situasi.


Apa benar begitu sederhananya?
Tapi mengapa orang-orang di sana berbeda?

Ketika aku menyadari bahwa apa yang kulihat tidak sama dengan intrepretasi hati, semuanya menjadi sulit.

Di negeri itu, semua menampilkan hal yang aneh.

Mereka tersenyum, senyum menghujat.
Mereka menangis, tangisan hampa tanpa ada luka.
Mereka marah, entah pada siapa.

Mereka mengaku jijik, tapi mereka ikut mencari.
Mereka berkata tidak sombong, tapi mereka menunjukkan bahwa mereka pembohong.
Mereka selalu menghalau, tapi diam-diam  menjangkau.

Siapa yang salah di sini? Bagaimana bisa ajaran kedua orang tuaku begitu berbeda dengan realita yang ada. Apa otakku yang lamban dalam mengklasifikasi emosi-emosi mereka? Di mana letak perbedaan setiap emosi mereka? Ada kepingan yang hilang dalam sikap mereka, namun aku tak tahu kepingan apa itu.

Apa mereka sedang melucu?
Haruskah aku tertawa?
Maksudku, tawa dalam artian sesungguhnya, bukan hanya sekadar ekspresi seperti yang mereka lakukan.

Bagaimana aku harus mengklasifikasi mereka? Ekspresi apa yang mereka tampilkan sebenarnya?

Jika aku menjulukinya dengan kata munafik, apa mereka akan menampik?
Sebanyak apa wajah mereka terbasuh dalam air muka yang palsu?
Semengerikan inikah negeri seribu wajah yang sedang aku jelajah?

Aku butuh kompas emosi agar interpretasinya menjadi pas dan serasi.
Aku mencari peta empati supaya semuanya lebih tertata di hati.
Harus kutemui satu jalan perasaan agar semua lebih aman dan transparan.

Biarkan aku menjelajah dengan tabah ke berbagai arah di negeri seribu wajah.

0 comments:

Posting Komentar

Berpikir untuk meninggalkan pesan/review? :)))